BAB III
PEMBAHASAN
Perataan laba dalam laporan keuangan
merupakan hal yang biasa dan dianggap masuk akal (Bartov, 1993). Praktik
perataan laba didorong oleh berbagai faktor. Faktor-faktor pendorong
perataan laba dapat dibedakan atas faktor konsekuensi ekonomi dari pilihan
akuntansi dan faktor-faktor laba. Faktor-faktor konsekuensi dari pilihan
akuntansi merupakan kondisi yang dipengaruhi oleh angka-angka akuntansi ,
sehingga perubahan akuntansi yang mempengaruhi angka-angka akuntansi
akan mempengaruhi kondisi itu. Sedangkan faktor-faktor laba adalah pengaruh
dari angka-angka laba periodik yang dengan sendirinya juga mendorong perilaku
perataan laba. Perataan laba tidak akan terjadi jika laba yang diharapkan tidak
terlalu berbeda dengan laba yang sesungguhnya (Prasetio, dkk., 2002).
1.1
Pengertian
Perataan Laba
Menurut Belkaoui perataan laba (income smoothing)
adalah pengurangan fluktuasi laba dari tahun ke
tahun dengan memindahkan pendapatan dari tahun-tahun yang tinggi pendapatannya
ke periode-periode yang kurang menguntungkan.
Fuddenberg dan Tirole dalam penelitian Budileksamana dan
Andriani berpendapat bahwa perataan
laba adalah suatu proses manipulasi waktu terjadinya laba atau laporan laba
agar laba yang dilaporkan terlihat stabil.
Beidleman dalam Ghozali dan Chariri mengartikan perataan
laba yang dilaporkan dapat didefinisikan sebagai usaha yang disengaja untuk
meratakan atau memfluktuasikan tingkat laba sehingga pada saat sekarang
dipandang normal bagi suatu perusahaan. Dalam hal ini, perataan laba menunjukan
suatu usaha manajemen perusahaan untuk mengurangi variasi abnormal laba dalam
batas-batas yang diijinkan dalam praktik akuntansi dan prinsip manajemen yang
wajar (sound).
Dari beberapa definisi di
atas, maka dapat disimpulkan bahwa perataan laba adalah suatu tindakan
manipulasi yang sengaja, yang dilakukan oleh manajemen terhadap fluktuasi laba
yang dilaporkan agar laba perusahaan berada di tingkat yang dianggap normal
oleh perusahaan atau dengan kata lain agar laba yang dilaporkan perusahaan
terlihat stabil sepanjang diizinkan oleh prinsip akuntansi dan manajemen yang
sehat.
Income
Smoothing tidak
tergantung pada kecurangan dan distorsi atau perubahan, melainkan pada peluang
yang muncul dalam alternatif prinsip-prinsip akuntansi transaksi yang diterima
dan penyebarannya.
Teori Efficiency
Market Hypothesis (EMH) menyebutkan bahwa laporan keuangan dapat
mempengaruhi pasar modal. Ini menunjukkan betapa pentingnya peranan laporan
keuangan. Karena pentingnya laporan keuangan ini di masyarakat barat khususnya,
maka menunjang manajemen melakukan hal-hal yang mengubah laporan laba rugi
untuk kepentingan pribadinya, seperti mempertahankan jabatan atau mendapatkan
bonus yang tinggi. Biasanya laba yang stabil di mana tidak banyak fluktuasi
atau variance dari suatu periode lain dinilai sebagai prestasi
baik. Upaya menstabilkan laba ini disebut income smoothing.
Income Smoothing biasanya
dilakukan dengan berbagai cara yaitu :
1. Mengatur waktu kejadian transaksi.
2. Memilih prinsip atau metode alokasi.
3. Mengatur penggolongan antara laba operasi normal dan laba yang bukan dari
modal normal.
Tidak semua negara
menganggap Income Smoothing ini merupakan pekerjaan haram. Swedia
misalnya membenarkan perlakuan ini sepanjang dibuat secara transparan dan
memang pada hakikatnya hasilnya sama dalam jangka panjang.
1.2 Tujuan Dilakukannya Perataan Laba
Menurut Nasser dan Parulian tujuan dilakukannya perataan
laba adalah perataan laba mempunyai tujuan untuk
mengurangi variabilitas atas laba yang dilaporkan guna mengurangi resiko pasar
atas saham perusahaan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan harga pasar
perusahaan.
Menurut Foster dalam penelitian Dwimulyani dan Abraham,
tujuan perataan laba adalah memberikan informasi yang relevan dalam melakukan prediksi terhadap laba
di masa yang akan datang.
1. Memprediksi citra
perusahaan dimata pihak luar bahwa perusahaan tersebut memiliki resiko yang
rendah.
2. Meningkatkan persepsi pihak
eksternal terhadap kemajuan manajemen.
3. Meningkatkan kompensasi
bagi pihak manajemen.
4. Meningkatkan kepuasan
relasi bisnis.
1.3 Dimensi Perataan Laba
Ada berbagai dimensi atau media yang biasanya digunakan
manajemen dalam melakukan praktik perataan laba. Dimensi parataan laba
pada dasarnya merupakan alat yang digunakan untuk menyelesaikan perataan angka
pendapatan.
Menurut
Eckel yang didukung oleh Nesser dan Parulina, perataan laba dapat dibedakan menjadi
dua jenis utama yaitu :
· Artificial Smoothing
Yaitu perataan laba yang dilakukan melalui prosedur
akuntansi yang diterapkan untuk memidahkan biaya atau pendapatan dari satu
periode ke periode yang lain yaitu dengan mengubah kebijakan akuntansi.
· Real Smoothing
Yaitu perataan laba yang dimanipulasi melalui transaksi
nyata dengan mengatur ( menunda atau mempercepat) transaksi.
Selain yang disebutkan di atas, ada dimensi lain dari
perataan laba yang dibahas oleh Barneaet. al. dalam Belkaoui mengenai
dimensi atau jenis ketiga dari perataan laba yaitu classificatory
smoothing. Belkaoui juga membedakan tiga dimensi perataan laba, antara
lain:
· Perataan melalui terjadinya
peristiwa dan atau pengakuan peristiwa
Artinya manajemen dapat menentukan waktu terjadinya
transaksi aktual sehingga pengaruhnya terhadap laba yang dilaporkan akan
cendrung rata sepanjang waktu.
Cara yang pertama ini merupakan rekayasa laba berdasarkan
pada penetapan waktu terjadinya transaksi yang lebih fokus pada pilihan
manajemen dari pada persoalan akuntansi. Oleh karena itu, perataan laba jenis
ini tidak hanya dibahas pada literatur akuntansi. Disamping karena sulit untuk
diidentifikasi, hal ini juga hampir dapat dikatakan menyimpang.
Contoh yang paling sederhana mungkin dapat ditunjukan
dengan penetuan nilai saat penjualan. Menyadari bahwa laba perusahaan pada
tahun berjalan sudah terlalu tinggi dan mengkhawatirkan sehingga pihak
manajemen memutuskan untuk menangguhkan transaksi penjualan yang seharusnya
terjadi pada akhir tahun berjalan menjadi penjualan awal tahun. Dengan bertambahnya
laba tersebut akan mengakibatkan penurunan laba pada periode yang akan datang.
· Perataan melalui alokasi
sepanjang waktu
Atas dasar terjadinya dan diakuinya peristiwa tertentu,
manajemen memiliki media pengendalian dalam penentuan laba pada periode yang
terpengaruh oleh kualifikasi peristiwa tersebut.
· Perataan melalui
klasifikasi
Jika angka-angka dalam laporan laba rugi selain laba
bersih merupakan objek dari perataan laba, maka manajemen dapat dengan mudah
mengklasifikasikan elemen-elemen dalam laporan laba rugi sehingga dapat
mengurangi variasi laba setiap periodenya.
Kedua cara perataan laba ini dapat digolongkan menjadi
satu karena rekayasa laba cara ini sama-sama jatuh pada permasalahan akuntansi
terlepas dari apa yang menjadi kebijakan pihak manajemen. Kedua cara ini juga
telah menarik minat banyak peneliti, terutama karena dua hal ini berkaitan
dengan SAK.
1.4 Objek Perataan Laba
Sasaran dalam melakukan perataan laba dapat difokuskan
pada aktivitas yang umumnya dilakukan oleh pihak manajemen untuk mempengaruhi
aliran dana atau informasi. Artinya untuk menciptakan laporan keuangan yang
diinginkan, manajemen dapat memasukkan informasi yang seharusnya dilaporkan
pada periode yang telah lalu atau yang akan datang ke dalam laporan periode
saat ini atau sebaliknya.
Beberapa
unsur dalam laporan keuangan yang sering kali dijadikan sasaran untuk melakukan
perataan laba, antara lain :
· Unsur Penjualan, yaitu:
1)
Pada saat pembuatan faktur penjualan, misalnya pihak
manajemen melakukan transaksi penjualan yang sebenarnya terjadi untuk periode
yang akan datang tetapi pembuatan fakturnya dilakukan dan dilaporkan sebagai
penjualan pada periode saat ini.
2)
Pembuatan pesanan atau penjualan fiktif. Hal ini
dilakukan dengan tujuan agar penghasilan perusahaan periode saat ini menjadi
lebih tinggi dari yang seharusnya dilaporkan.
3)
Dengan cara downgrading (menurunkan
nilai produk), misalnya dengan cara menuliskan dalam faktur penjualan bahwa
produk yang dijual termasuk dalam kelompok produk rusak atau cacat, sehingga
harga yang tercantum menjadi lebih rendah dari harga yang sebenarnya terjadi.
Dengan hasil akhir dalam laporan keuangan bahwa penghasilan dari penjualan
perusahaan menjadi lebih rendah dari penjulan yang seharusnya terjadi.
·
Unsur Biaya, Yaitu:
1)
Mencegah faktur pembelian misalnya faktur untuk sebuah pembelian atau
pesanan dipecah menjadi beberapa pembelian atau pesanan dan selanjutnya dan
selanjutnya dibuatkan beberapa faktur dengan tanggal yang berbeda, sehingga
kemudian dilaporkan ke dalam beberapa periode akuntansi yang berbeda.
2)
Dengan memecah faktur pembelian juga memungkinkan terjadinya peningkatan
biaya angkut barang dan atau peningkatan baiaya administrasi yang semula hanya
satu kali menjadi beberapa kali.
3)
Mencatat biaya dibayar dimuka (prepayment) sebagai biaya.
Misalnya melaporkan sewa dibayar dimuka untuk periode yang akan datang sebagai
biaya sewa untuk periode saat ini.
1.5 Alasan Manajemen Melakukan Perataan Laba
Dalam hubungan keagenan, manajer memiliki asimetri
informasi terhadap pihak eksternal perusahaaan seperti kreditor dan investor.
Hal ini terjadi ketika manajer memiliki informasi internal perusahaan relatif
lebih banyak dan mengetahui informasi tersebut relatif lebih cepat.
Manajemen sebagai agen yang mengetahui lebih banyak
informasi, akan memanfaatkan informasi yang tidak diketahui oleh prinsipal
(pemilik) untuk memaksimalkan kepentingannya. Dalam hal ini adalah pada nilai
perusahaan dan manajer percaya bahwa pasar mendasarkan pada angka akuntansi.
Oleh karena itu, manajer dapat menggunakan informasi yang diketahui untuk
memanipulasi laporan keuangan dalam usaha memaksimalkan kemakmuran.
Menurut Hepworth dalam penelitian Nasser dan Parulina
mengungkapkan bahwa manajer yang termotivasi untuk melakukan perataan laba
karena ingin mendapatkan berbagai keuntungan ekonomis dan psikologis, yaitu:
1. Mengurangi total pajak yang
terutang.
2. Meningkatkan kepercayaan
diri manajer karena penghasilan yang stabil mendukung kebijakan deviden yang
stabil.
3. Mengingkatkan hubungan
antar manajer dan karyawan karena pelaporan laba yang meningkat tajam memberi
kemungkinan munculnya tuntutan kenaikan gaji dan upah.
4. Siklus peningkatan dan
penurunan penghasilan dapat ditandingkan dengan gelombang optimisme dan
pesimisme dapat diperlunak.
Secara
rasional, manajer ingin meratakan penghasilan yang dilaporkannya dengan alasan
memperkecil tuntutan pemilik perusahaan. Menurut Dwimulyana dan Abraham, ada
dua alasan mengapa manajemen melakukan praktik perataan laba. Alasan tersebut
antara lain:
1. Skema kompensasi manajemen
dihubungkan dengan kinerja perusahaan yang digambarkan melalui laba akuntansi
yang dilaporkan, karena itu setiap fluktasi dalam laba akan berpengaruh
langsung dalam kompensasinya.
2. Fluktuasi dalam kinerja
manajemen dapat mengakibatkan intervensi pemilik untuk mengganti manajemen
dengan cara pengambilalihan atau pengganti manajemen secara langsung. Ancaman
penggantian ini mendorong manajemen untuk membuat laporan kinerja yang sesuai
dengan keinginan pemilik.
1.6 Jenis Perataan Laba
Ada dua jenis perataan laba, yaitu (Riahi-Belkaoui,
2004):
1. Intentional
atau designed smoothing
Intentional atau smoothing ialah keputusan atau pilihan
yang dibuat untuk mengatur fluktuasi earnings pada level yang diinginkan.
2. Natural Smoothing
Natural smoothing adalah income generating process yang
natural, bukan dari hasil
tindakan yang diambil manajemen.
1.7 Faktor Pendorong Perataan Laba
Tidak semua Negara melarang dilakukannya perataan laba (Harahap,
2005). Seperti Swedia misalnya, di negara ini perataan laba diperbolehkan,
asalkan perataan laba ini dilakukan dengan transparan.
Beberapa factor yang mendorong manajemen melakukan
perataan laba adalah (Sugiarto, 2003):
1. Kompensasi bonus
Pada penelitiannya, Healy menemukan bukti bahwa manajer yang tidak
dapat memenuhi target laba yang ditentukan akan memanipulasi laba agar dapat
mentransfer laba masa kini menjadi laba masa depan. Selain itu, menurut
Harahap(2005), pentingnya laporan keuangan mengundang manajemen untuk meratakan
laba demi mendapatkan bonus yang tinggi.
2.
Kontrak Utang
Defond
dan Jimbalvo (1994) dengan menggunakan model Jones, mengeveluasi tingkat akrual
perusahaan yang tidak dapat memenuhi target laba. Mereka menemukan bahwa
perusahaan yang melanggar perjanjian utang telah merekayasa labanya, satu
periode sebelum perjanjian utang itu dibuat.
3.
Faktor Politik
Jones
(1991) meneliti perusahaan yang sedang diinvestigasi oleh International Trade
Commision (ITC). Ia menemukan bukti bahwa produsen domestic cenderung
menurunkan laba dengan teknik discretionary accrual untuk mempengaruhi
keputusan regulasi impor. Naim dan Hartono (1996) meneliti perusahaan yang
diduga melakukan monopoli dan menemukan bahwa manajer perusahaan melakukan
perataan laba untuk menghindari UU Anti-Trust.
4.
Pengurangan Pajak
Perusahaan
melakukan perataan laba untuk mengurangi jumlah pajak yang harus dibayarkan
kepada pemerintah (Arens, Elder, Beasley, 2002).
5.
Perubahan CEO
Pouciao
(1993) menemukan bukti bahwa perekayasaan laba dilakukan dengan meningkatkan
unexpected accruals pada periode satu tahun sebelum penggantian eksekutif tak
rutin.
6.
Penawaran saham perdana
Clarkson
et al (1992) menyatakan ada reaksi positif dari pengumuman earnings forecast
yang ada di prospektus dengan tingkat penjualan saham, karena public hanya
melihat laporan keuangan yang dilaporkan pada regulator. Banyak perusahaan yang
melakukan perataan laba demi mendapatkan dan mempertahankan investor (Jones, 2005).
Faktor yang diasumsikan menyebabkan manajer melakukan
perataan laba menurut buku Accounting Theory (Riahi-Belkaoui, 2004:451), ialah
:
1. Mekanisme pasar kompetitif, ysng mengurangi pilihan-pilihan yang
tersedia untuk manajemen.
2. Skema kompensasi manajemen, yang terkait langsung dengan kinerja
perusahaan.
3. Ancaman pergantian manajemen.
1.8 Teknik Perataan Laba
Berbagai teknik yang dilakukan dalam perataan laba
diantaranya ialah (Sugiarto, 2003:
1. Perataan
melalui waktu terjadinya transaksi.atau pengakuan transaksi. Pihak manajemen
dapat menentukan atau mengendalikan waktu transaksi melalui kebijakan manajemen
sendiri (accruals) misalnya biaya riset dan pegembangan.
2. Perataan melalui alokasi untuk beberapa periode tertentu. Manajer
mempunyai wewenang untuk mengalokasikan pendapatan atau beban untuk periode
tertentu. Misalnya: jika penjualan meningkat maka manajemen dapat membebankan
biaya riset dan pengembangan serta amortisasi goodwill pada periode itu untuk
menstabilkan laba.
3. Perataan melalui klasifikasi. Manajemen memiliki kewenangan untuk
mengklasifikasikan pos-pos rugi laba dalam kategori yang berbeda. Misalnya jika
pendapatan non-operasi sulit didefinisikan, maka manajer dapat mengklasifikasikan
pos itu pada pendapatan operasi atau pendapatan non-operasi.
Keleluasaan untuk memakai teknik-teknik akuntansi dalam
mencatat terbukti telah disalahgunakan oleh manajemen untuk melakukan perataan
laba. Bahkan disinyalir bahwa perataan laba banyak dilakukan dengan menggunakan
teknik-teknik akuntansi yaitu dengan merubah kebijakan akuntansi (Koeh, 1981).
Berdasarkan hal tersebut maka penelitian tentang perataan laba ini dilakukan
dengan mengambil perubahan kebijakan akuntansi sebagai objek dihubungkan dengan
antisipasi laba masa depan untuk menghindari pemecatan.